Sang Penari


Saya butuh dua kali nonton untuk menerima film Sang Penari dalam hati saya. Pada kesempatan nonton pertama, saya datang sebagai penggemar novel Ronggeng Dukuh Paruk yang gembira ria sebab novel ini telah difilmkan lagi. Di tahun 1980-an sutradara Yasman Yazid dan PT Gramedia Film memang sudah memfilmkannya dengan judul Darah dan Mahkota Ronggeng. Saya belum menonton film itu, makanya saya begitu bersemangat untuk menonton film Sang Penari karya sutradara Ifa Isfansyah ini. Saya sampai lupa tak memperhatikan detil poster film yang menyatakan bahwa Sang Penari adalah sebuah film yang terinspirasi dari novel.
Sebab disebut terinspirasi, sudah seharusnya saya tidak boleh memaksakan kehendak imajinasi saya hadir dan terpuaskan dalam film tersebut. Tapi nyatanya hal itu tak bisa saya hindari. Saya, bersama dua kawan saya yang sama-sama penggila novel tersebut, sibuk berceloteh ‘tidak terima’ atas sejumlah interpretasi yang dilakukan Salman Aristo, Shanty Harmayn, dan Ifa. Kami lupa bahwa ini adalah sebuah transformasi karya sastra, dan sudah seharusnya sebuah kebebasan penerjemahan dan penafsiran diberikan kepada pembuat transformasi tersebut. Bahkan Ahmad Tohari sipembuat novel pun begitu bijak mempersilakan siapa saja menafsirkan karyanya.  
Jadilah di kesempatan nonton yang kedua saya dapat lebih menerima dan merasakan Sang Penari ini dari hati. Saya menikmati pergerakan alur yang dibuat flashback, yang tentu saja berbeda dengan novelnya. Adegan dibuka dengan Rasus (Nyoman Oka Antara) yang telah menjadi tentara, datang menengok sebuah kampung yang sepi. Sebuah gambaran pengantar Dukuh Paruk usai tragedi 1965. Lalu Rasus menemukan Sakum (Hendro Jarot) si buta yang terpojok di gubuk dan meminta Rasus mencari Srintil. 
Cerita pun baru bergulir, kembali ke tahun 1953. Dukuh Paruk hidup dengan kebanggaan akan ronggeng Surti (Happy Salma), penduduk yang riang, dan masa kanak-kanak Srintil dan Rasus. Lalu terjadilah peristiwa keracunan massal tempe bongkrek buatan Santayib, bapak Srintil, yang menewaskan banyak warga termasuk ronggeng dukuh itu. Ini adalah peristiwa penting yang menandai motivasi utama Srintil ingin menjadi ronggeng. Sebuah laku wujud bakti pada dukuh dan juga penebus dosa orang tua. Sebuah penanda keintiman hidup warga Dukuh Paruk mulai hadir di adegan ini. Srintil dan Rasus kecil tidur bersama di rumah Rasus dan diketahui ibu mereka. Serupa itulah persaudaraan yang terjalin di dukuh miskin yang lebih sering hanya bisa makan gaplek ketimbang beras itu. 
Adegan beranjak ke tahun 1963. Srintil dan Rasus telah remaja. Dukuh Paruk tampak hijau. Tentu ini berbeda dengan gambaran yang ada di dalam novel. Dukuh Paruk di sana adalah daerah yang sangat gersang bahkan untuk mencabut singkong saja anak-anak kecil mesti membasahi tanah dengan air kencing mereka. Namun dalam film, bocah-bocah gundul itu mencabut singkong dari tanah yang gembur. Pemakluman tentang ini harus sangat diberikan jika kita tahu bahwa tim produksi setidaknya telah berusaha menunggu kemarau datang hingga enam bulan lamanya, tetapi sayang kemarau dan latar kekeringan tidak datang juga.

Srintil (Prisia Nasution) mulai berdialog dengan Rasus di bagian awal ini. Saya menyukai logat Banyumasan mereka yang cukup medok. Kisah cinta mereka, yang memang merupakan inti dari film ini, digambarkan dengan begitu manis. Rasus digambarkan sebagai pemuda polos yang cenderung terlihat dungu. Namun, ia juga seorang pemuda gesit, dan semacam terpandai di antara pemuda dukuh lainnya. Gaya pacaran mereka sederhana, sesederhana memecah buah pepaya di atas batu. 
Jiwa ronggeng Srintil mulai dibuka oleh dialog Srintil dan Sakum di depan makam Ki Secamenggala, leluhur Dukuh Paruk. Semangat Srintil untuk meronggeng ini ditangkap oleh Sakarya (Landung Simatupang), kakek Srintil, yang kemudian mendatangi Kartareja (Slamet Rahardjo) sebagai dukun ronggeng di dukuh itu. Ada keengganan dalam diri Kartareja sehingga membuatnya tidak datang ke ngibing pertama Srintil. Adegan ini sukses diperankan Prisia dengan wajah muramnya. Ia mampu menjiwai seorang gadis yang belum pandai menari tetapi berhasrat besar untuk membalas dosa emak bapaknya. 
Rasus sendiri tidak mendukung Srintil untuk menjadi ronggeng. Filosofinya sederhana dan merupakan kecemburuan pacar yang tak mampu melawan kehendak dukuh. Seluruh warga menyukai ronggeng sebab itu adalah budaya yang begitu mengakar. Namun, kalimat “Ronggeng ku kayak pohon kelapa. Sapa bae bisa slaman slumun manjat.” menjadi sebuah gugatan seorang kekasih atas dunia ronggeng. Sayangnya, Srintil begitu ingin njoget sehingga Rasus pun mendukungnya dengan memberikan keris Ronggeng Surti. Dukungan itu nyatanya tidak dari hati sebab Rasus melarikan diri ketika malam peresmian Srintil. Apalagi ketika acara bukak klambu digelar sebagai syarat ‘dadi ronggeng’. Penonton di luar budaya ini bisa terkaget-kaget bahwa serupa itulah seksualitas dan harta dimaknai dalam budaya yang tak terjamah agama. Di sini saya puas dengan akting Nyai Kartareja (Dewi Irawan) yang lugas memerankan dukun ronggeng alias mucikari, yang selalu berusaha mengambil keuntungan dari seorang ronggeng binaannya. Ia juga yang berperan merawat, menasehati, dan mengatur Srintil untuk menghadapi para lelaki.

Srintil sukses menjadi ronggeng sementara Rasus lari dari ketidakmampuannya bersaing dengan lelaki lain. Ia masuk dalam dunia militer awal Indonesia dan menjadi pesuruh yang cekatan. Ia diasuh tokoh Sersan (Tio Pakusadewo), diajari untuk lebih gagah sekaligus belajar membaca. Karakter Rasus berkembang seiring berkembangnya pula kesenian ronggeng di dukuh yang mulai disusupi tokoh Bakar (Lukman Sardi) yang membawa istilah pertentangan rakyat dan borjuis.
Pergerakan kegalauan cinta Srintil pada Rasus cukup ditampilkan dengan baik dalam beberapa penggalan adegan: Emohnya Srintil menari sampai berani menolak Pak Marsusi, jampi-jampi telur ajian putus cinta, iri hati melihat orang menikah, sampai bayi Goder yang memancing hasrat keibuannya. Adegan-adegan itu saya pikir cukup bisa menyiasati permusuhan antara alur novel yang begitu detil dengan durasi film yang tidak bisa panjang. 
Kemunculan bagian yang disensor 
Yang saya paling puas dari film ini adalah visualisasi kejadian 1965 yang menimpa warga Dukuh Paruk. Ahmad Tohari si pengarang novel pun puas. Ia sendiri tidak membuat deskripsi yang begitu jelas tentang adegan penyiksaan atas warga Dukuh Paruk, atau pembunuhan atas Bakar dan kawan-kawan PKI. Beberapa deskripsi yang ditulisnya tentang rumah tahanan saja sempat disensor oleh Koran Kompas ketika tulisan tersebut muncul pertama kali sebagai cerita bersambung di tahun 1981. Meskipun kemudian bagian yang disensor itu muncul kembali dalam trilogi novel yang disatukan dalam satu buku Ronggeng Dukuh Paruk terbitan Gramedia tahun 2003.

Sebab film ini dibuat di era kebebasan berbicara sekarang, maka pembuat film bisa asyik bereksperimen menyampaikan beragam kode pada penonton melalui benda atau dialog. Kita bisa lihat caping yang dicat merah, arit yang dipegang petani, atau juga mendengar kata ‘merah’ dan ‘dewan revolusi’. Tak ada lagi sensor atas penyebutan Puterpra (Perwira Urusan Teritorial Perlawanan Rakyat) sebagaimana dulu Kompas tak berani menyajikannya. Penonton bisa melihat Sersan Pujo sebagai perwakilan tentara dan keberpihakannya dengan jelas atau adegan pembunuhan aktivis PKI dengan sangat gamblang. Ini sebuah catatan perfilman yang menyenangkan ketika sebuah sejarah gelap bangsa ini mulai dibuka dalam karya film yang nyata. Masyarakat bisa tahu, seperti itulah keadaan buruk yang menimpa banyak saudara kita yang dengan mudah dituduh PKI. Kepolosan warga Dukuh Paruk yang tahu membaca pun tidak kontras diadili dengan kekejaman tentara yang mendapat amanat membersihkan komunis sampai ke akar rumput.

Tafsir atas bagian akhir novel dan bagian akhir film memang sangat berbeda. Saya puas dengan penggambaran penjara Eling-Eling dalam novel yang divisualkan dengan lorong ruang semacam bunker, gedung tua, yang menampung ratusan tertuduh PKI yang tak bersalah itu. Ketidakpuasan saya terjadi pada satu dua adegan yang tidak jelas memperlihatkan alur akhir hidup Srintil. Dalam novel tertulis Srintil menjadi gila, dan itulah akhirnya. Jelas ini bukan akhir yang menyenangkan untuk penonton kita. Ada proses hebat yang menjadikannya seperti itu, yang agaknya ditampilkan dalam sepotong adegan yang tidak cukup jelas bagi penonton awam. Srintil dibawa Darsun (Teuku Rifnu) kepada seorang lelaki dan diserahkan dengan kalimat “yang penting tidak malu-maluin”. Srintil menyembur ludah ke cermin dan sangat marah sampai ia dikembalikan lagi ke penjara. Mungkin ini adalah perwakilan bagian novel ketika Bajul menjual Srintil pada bosnya. Dan di situlah harga diri Srintil terkoyak dan membuatnya gila. 
Seperti apa yang dikatakan Ifa bahwa Sang Penari adalah film cinta, maka sad ending yang sangat tragis itu sepertinya memang dihindari oleh pembuat naskah. Film ini mendramatisasi pertemuan Rasus dan Srintil dengan sangat baik, dan sekaligus mengarahkan pembaca pada dugaan horor dengan kepergian lori yang membawa Srintil dan tahanan lainnya. Beberapa penonton yang bukan pembaca novel menduga Srintil mati. Lalu kemudian, latar berubah menjadi Pasar Dawuan tahun 1975, atau kira-kira 10 tahun setelah adegan kepergian lori itu. Rasus menemukan Srintil meronggeng disana. Rupanya ia mengamen bersama Sakum. Penonton tidak perlu tahu bagaimana kemudian Srintil bisa selamat dari tragedi merah. Penonton diajak memahami leraian bahwa Rasus menyerahkan keris kepada Srintil. Lalu Srintil pergi bersama Sakum, dan terus menari sepanjang jalan kampung. Sebuah akhir cerita terbuka yang menyenangkan hati pembaca, tetapi tidak mampu membuat saya menangis seperti akhir novel yang begitu mengguncang rasa kemanusiaan saya. 
Tulisan ini agaknya bisa berkembang menjadi skripsi kedua atau tesis idaman saya. Namun, sampai di sini, saya sudah cukup terpuaskan. Sebuah film yang mengambil ide dari karya sastra Indonesia sangat perlu didukung dan diapresiasi sehebat mungkin. Apalagi jika di dalamnya membawa misi untuk membuka mata kita dan dunia atas ragam sejarah kelam bangsa kita. 
Jenis film: drama
Produksi: Salto Films
Produser: Shanty Harmayn
Sutradara: Ifa Isfansyah
Penulis: Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty Harmayn
Pemain: Nyoman Oka Antara, Prisia Nasution, Slamet Rahardjo, Tio Pakusadewo, Landung Simatupang, Dewi Irawan, Lukman Sardi, Teuku Rifnu Wikana, Happy Salma.
Durasi: 111 menit
Rilis: November 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar